banyak.
banyak banget hal yang ingin saya tulis disini.
dan perlu anda tahu bahwa saya hampir saja mempublish sekelumit cerita tentang adaptasi dari smp ke sma. sekitar 2000 kata dan tahu apa yang terjadi?
koneksi internet terputus. dan itu belum ke-save.
well, terima kasih modem hp smart 288ribu --
lesson #1:
kalau mau nulis panjang di microsoft word dulu. nanti tinggal copas disini.
lesson #2:
mulai berpikir untuk mengganti hp modem smart 288 rb yang hemat tapi lemot ini dengan yang lebih tidak mengecewakan --
Friday, May 21, 2010
Wednesday, March 24, 2010
I'm sure that I have no more tears for 'it' anymore.
hei hei.
dont hold that weird feeling on you.
it makes u weaker than before.
u gonna be alright!
stop thinking too long.
im weak.
its all because my fault when i failed keep my heart.
that greengrass made it worse
ya Rabbi..
hold me on..
keep me on from another love except to You ...
dont hold that weird feeling on you.
it makes u weaker than before.
u gonna be alright!
stop thinking too long.
im weak.
its all because my fault when i failed keep my heart.
that greengrass made it worse
ya Rabbi..
hold me on..
keep me on from another love except to You ...
Aku bilang bukan
kuharap ini bukan alasan dr kecewa.
karna kecewa yg dirasa saat ini, bukan kecewa yg mulia.
ia diliputi bisik syaitan yg begitu halus.
sungguh,
aku tak ingin trlibat trlalu jauh dalam irama prmainan hati.
trlalu bnyak campur tangan syahwat dan duniawi dalam menilai sbuah kejadian.
kesimpulan ini tak murni.
sudahlah..
jgn trlalu dirasa sperti itu, kawan.
kau terlalu mendramatisirnya.
ya... terlalu mendramatisirnya.
di dekat hujan, 22.15
karna kecewa yg dirasa saat ini, bukan kecewa yg mulia.
ia diliputi bisik syaitan yg begitu halus.
sungguh,
aku tak ingin trlibat trlalu jauh dalam irama prmainan hati.
trlalu bnyak campur tangan syahwat dan duniawi dalam menilai sbuah kejadian.
kesimpulan ini tak murni.
sudahlah..
jgn trlalu dirasa sperti itu, kawan.
kau terlalu mendramatisirnya.
ya... terlalu mendramatisirnya.
di dekat hujan, 22.15
Tuesday, March 23, 2010
Beruntung!
Betapa beruntungnya!
Ya. Betapa beruntungnya saya masuk SMA Negeri 15 Surabaya.
Saya nggak bisa membayangkan jika saya sekolah di sma negeri lain.
Di tempat itulah, saya menemukan arti penting hidup saya dari sisi berbeda. di tempat itulah saya bertemu dengan orang orang hebat yang bisa bertahan di segala kondisi.
lebih tepatnya SKI.
Saya yang saat itu masih childish dan kekanakan, membenci sekolah itu.
Benci kenapa nggak maksimal di tes sbi, benci kenapa limabelas jauh banget tempatnya dari rumah, benci kenapa ibu terus sambat tentang sekolah itu, benci kenapa ada matrikulasi yang pake bahasa pengantar bahasa Inggris.
i was so sure that "the wonderful part of people's life begins at highschool" is a BIG lie.
tapi Allah maha baik. Allah 'mengirimkan' seorang teman sebangku yang sangat bersemangat.
namanya Niswah.
Saya sering terkesima dengan semangatnya bercerita tentang teman-temannya, Palestina, tentang Islam yang lebih indah di matanya setelah memakai kerudung di SMA, tentang semangatnya untuk terus memperbaiki diri, tentang mimpinya, tentang ajakannya masuk SKI bersama-sama...
Saya yang dari awal samasekali nggak ada niatan masuk SKI, akhirnya luluh juga. sama sekali nggak ada motivasi kecuali nyenegin hati temen doang. Ada sebersit sombong yang memalukan dalam hati saya saat itu: aku lho 9 tahun sekolah di sekolah islam, ngapain 'ikut-ikut lagi'.
Waktu istirahat di Senin yang indah itu, saya ditemani Niswah pergi ke masjid Ad'Dakwah untuk mengambil formulir di Ukhti Denny. Mbak Denny tersenyum lebar menyambut kami.
Mungkin niat awal saya hanya sedengkul. Lambat laun, pola berpikir saya berubah.
I found the wonderful relationship among us.
Kami saling bercanda, menemukan bahwa sifat teman-teman saya di SKI muacem macem, sama-sama belajar mengoordinir kegiatan, sama-sama mengetahui dan mengerti Islam lebih dalam. Sampai akhirnya saya mengerti, mereka punya visi dan misi yang sama, yang indah : Mencintai Allah dan merindukan Rasul-Nya. Saya jadi berani mengorbankan keinginan menjadi OSIS hanya karena disuruh memilih dua pilihan itu oleh keluarga. OSIS atau SKI?
Jadi, kalau ada pengumuman dari radikal yang bilang akan ada rapat atau forum bebas, saya dan teman-teman bersemangat sekali. Karena kami merasa akan bertemu keluarga kedua kami, kami akan refreshing setelah mati-matian menahan suntuk pelajaran yang sampe sore.
Refreshing is great, isn’t it?
SKI juga membuka wawasan dan koneksi saya, lewat SKI, saya banyak mengenal akhwat-akhwat smala, smanam, smasa, bertemu mbak-mbak mentor yang bejibun kuliah di FK Unair, mendengar cerita dan pengalaman mereka, berkali-kali takjub karena mendapat materi-materi keren dari mas-mas trainer atau yang setengah trainer.
Jujur.
Saya baru meneguk keindahan itu di SMA. di SKI lebih tepatnya. SKI bikin saya jadi jauh lebih gaul.
Subhanallah, saya sadar bahwa saya beruntung sekali.
Karena, andai saja saya tidak masuk Libels yang akhirnya mempertemukan saya dengan orang-orang keren di dalamnya, saya nggak tahu saya akan jadi remaja yang gimana. Mungkin saya akan aktif di OSIS, tapi mungkin saya akan tetap menggerutu dan tidak bersyukur.
Saya menjadi semakin yakin, bahwa segala yang telah terjadi, adalah yang terbaik dari Allah.
Dan saya sangat bersyukur, Allah menunjukkan kuasaNya dengan cara yang indah.
Allah Maha Baik..
Ya. Betapa beruntungnya saya masuk SMA Negeri 15 Surabaya.
Saya nggak bisa membayangkan jika saya sekolah di sma negeri lain.
Di tempat itulah, saya menemukan arti penting hidup saya dari sisi berbeda. di tempat itulah saya bertemu dengan orang orang hebat yang bisa bertahan di segala kondisi.
lebih tepatnya SKI.
Saya yang saat itu masih childish dan kekanakan, membenci sekolah itu.
Benci kenapa nggak maksimal di tes sbi, benci kenapa limabelas jauh banget tempatnya dari rumah, benci kenapa ibu terus sambat tentang sekolah itu, benci kenapa ada matrikulasi yang pake bahasa pengantar bahasa Inggris.
i was so sure that "the wonderful part of people's life begins at highschool" is a BIG lie.
tapi Allah maha baik. Allah 'mengirimkan' seorang teman sebangku yang sangat bersemangat.
namanya Niswah.
Saya sering terkesima dengan semangatnya bercerita tentang teman-temannya, Palestina, tentang Islam yang lebih indah di matanya setelah memakai kerudung di SMA, tentang semangatnya untuk terus memperbaiki diri, tentang mimpinya, tentang ajakannya masuk SKI bersama-sama...
Saya yang dari awal samasekali nggak ada niatan masuk SKI, akhirnya luluh juga. sama sekali nggak ada motivasi kecuali nyenegin hati temen doang. Ada sebersit sombong yang memalukan dalam hati saya saat itu: aku lho 9 tahun sekolah di sekolah islam, ngapain 'ikut-ikut lagi'.
Waktu istirahat di Senin yang indah itu, saya ditemani Niswah pergi ke masjid Ad'Dakwah untuk mengambil formulir di Ukhti Denny. Mbak Denny tersenyum lebar menyambut kami.
Mungkin niat awal saya hanya sedengkul. Lambat laun, pola berpikir saya berubah.
I found the wonderful relationship among us.
Kami saling bercanda, menemukan bahwa sifat teman-teman saya di SKI muacem macem, sama-sama belajar mengoordinir kegiatan, sama-sama mengetahui dan mengerti Islam lebih dalam. Sampai akhirnya saya mengerti, mereka punya visi dan misi yang sama, yang indah : Mencintai Allah dan merindukan Rasul-Nya. Saya jadi berani mengorbankan keinginan menjadi OSIS hanya karena disuruh memilih dua pilihan itu oleh keluarga. OSIS atau SKI?
Jadi, kalau ada pengumuman dari radikal yang bilang akan ada rapat atau forum bebas, saya dan teman-teman bersemangat sekali. Karena kami merasa akan bertemu keluarga kedua kami, kami akan refreshing setelah mati-matian menahan suntuk pelajaran yang sampe sore.
Refreshing is great, isn’t it?
SKI juga membuka wawasan dan koneksi saya, lewat SKI, saya banyak mengenal akhwat-akhwat smala, smanam, smasa, bertemu mbak-mbak mentor yang bejibun kuliah di FK Unair, mendengar cerita dan pengalaman mereka, berkali-kali takjub karena mendapat materi-materi keren dari mas-mas trainer atau yang setengah trainer.
Jujur.
Saya baru meneguk keindahan itu di SMA. di SKI lebih tepatnya. SKI bikin saya jadi jauh lebih gaul.
Subhanallah, saya sadar bahwa saya beruntung sekali.
Karena, andai saja saya tidak masuk Libels yang akhirnya mempertemukan saya dengan orang-orang keren di dalamnya, saya nggak tahu saya akan jadi remaja yang gimana. Mungkin saya akan aktif di OSIS, tapi mungkin saya akan tetap menggerutu dan tidak bersyukur.
Saya menjadi semakin yakin, bahwa segala yang telah terjadi, adalah yang terbaik dari Allah.
Dan saya sangat bersyukur, Allah menunjukkan kuasaNya dengan cara yang indah.
Allah Maha Baik..
Thursday, March 18, 2010
Lagi, kita bicara tentang cita-cita
Semua anak kelas X di Sekolah saya sedang sibuk menyiapkan syarat-syarat ke jurusan impian di kelas XI mereka nanti. Almost of them choose (of course) IPA. Syarat masuk IPA di Libels adalah rata-rata nilai Mat-Kim-Bio-Fis-Bing mereka 72, dan 77 untuk Bing. Untuk IPS, Sosiologi-Geografi-Ekonomi-Sejarah minimal 77. Dan perlu diketahui lagi, ujian di SMA saya yang indah ini tidak hanya UTS, atau UAS.
Ada 3 macam ujian:
1. Ulangan Subyektif
Bahasa gampangnya, ulangan essay atau lisan di gurunya langsung.
2. Ulangan Obyektif
Yakni ulangan terkoordinir satu sekolah, dengan menghitamkan salah satu bulatan imut LJK, pilihan ganda, sampai scanner sensi khas ruang data.
3. Evaluasi Enrichment.
Kalo yang ini khusus untuk tambahan pelajaran siang hari, yaitu Mat Fis Kim Bio Bing. Dan evaluasi yang ini berguna banget buat nambal nilai mafiabiobing yang jelek jelek.
Ahaa.. maaf ada yang lupa. Remidi. Saya rasa anda semua tau apa itu remidi. Jika nilai anda kurang dari SKM, hadapilah remidi itu. Biasanya, di sekolah saya, remidi berjamaah itu biasa. Dilakukan hampir sama seperti ulangan obyektif, tentu saja dengan nilai maksimal SKM. Haha. Kalo setelah remidi nilainya tetep kurang dari SKM? Silahkan menghadap guru mapel bersangkutan untuk meminta remidi, karena beberapa guru memilih cuek terhadap nilai siswanya. Dan kalau anda lagi nganggur, boleh membuka website resmi sekolah saya, karena disitu tercantum link download nilai hasil obyektif dan enrichment dari ruang data. Tapi saya mohon jangan dibuka, kalau anda nggak mau trauma. Jadi kalo anda mampir ke libels dan menemukan segerombolan anak numpuk berebutan di satu layar laptop dan ada yang teriak kegirangan atau ada yang mendesah kecewa, itu berarti mereka sedang melihat hasil ulangan obyektif atau enrichment mereka.
Kembali ke pembahasan tentang penjurusan. Seorang siswa akan masuk ke satu jurusan dengan beberapa pertimbangan:
1. Syarat nilai akademis terpenuhi
2. Hasil psikotes
3. Minat.
Ini dia. Seharusnya sederhana, tapi begitu rumit untuk diputuskan oleh orang plinplan seperti aku.
Di awal kelas X, saya dan teman-teman sudah menjalani psikotes, dan hasil nya menunjukan penurunan IQ dari SMP ke SMA saya --, (melas melaass)
Tapi, hasil psikotes menunjukan beberapa hal yang saya membuat saya kaget.
Minat scientific saya paling tinggi nilainya daripada bidang lain. Dan minat linguistic yang saya jagokan dari awal hanya mendapat peringkat kedua. Saya bertanya pada diri saya, mosok seh awakmu seneng ipa?
Jawaban sewot langsung muncul di benak saya. Iya! Saya menikmati ketika sedang membaca tentang pembiasan di dua medium berbeda kerapatannya, membaca tentang kehidupan porifera, dan memahami reaksi oksidasi suatu benda.
Tapi dalam detik yang bersamaan muncul pertanyaan yang menskak-mat argument pertama,
Kok nilaimu di matfiskim gak pernah setinggi yang dibilang hasil psikotes lhoh?
Saya hanya pernah sekali sukses di fisika, kimia dan matematika. Waktu awal-awal kelas X tok. Untuk yang semester dua ini, kalaupun selamat, nilainya pasti nyrempet-nyrempet SKM. Saya berpikir, mungkin bakat itu ada. Tapi saya nggak menemukan cara untuk bisa menikmatinya seperti saya menikmati biologi yang notabene hafalan sambil membayangkan. Perlu diketahui juga, saya lemah di matematika murni. Saya sering melakukan kesalahan waktu berhitung. Gak teliti lah, lupa dikali setengah lah, kurang nambah negasi lah. Saya menyadari itu. tapi dari awal, saya nggak pernah belajar kalo hanya untuk nyari nilai bagus. percuma. nggarai gak ikhlas dan gak dapet berkahnya.
Saya juga selalu enjoy belajar ilmu – ilmu sosial, mana gurunya asik asik.
Dan yang mengherankan saya lagi, di hasil psikotes itu tertulis jelas:
Lebih Disarankan : Ilmu Alam.
Matematika itu masuk ilmu alam gak siiihh ?? - - bagian mananya? (Mohon dijawab) padahal matematika tu dasar semua aspek kehidupan. Ck ck , saya suka matematika pas saya mudeng. Hehehe. Ya, minimal saya harus menyiapkan mood dan semangat lebih untuk belajar matematika.
Tapi seharusnya saya nggak akan segamang ini jika tidak melihat cita-cita akhir saya.
Saya sudah berjanji nggak akan ngambil kuliah IPA, (ngngng .. perjanjian aneh) karena saya agak trauma setelah melihat buku kalkulus kakak saya yang kuliah di IPA. Yahhh… meskipun itu berarti saya nggak ketemu lagi sama biologi atau kimia… Saya akan terjun total di bidang yang saya sukai, dan saya yakin mampu untuk itu. Kita nggak bisa main-main lagi, kita berbicara tentang Cita-Cita. Saat itu, saya mantap IPS, dengan pertimbangan dasar ilmu kuliah, sudah saya pegang di SMA.
Dan ada satu hal yang saya lewatkan dalam memutuskan tentang hal ini.
Nasihat orang tua.
Ayah saya dengan sangat demokratis membebaskan saya memilih apapun jurusan yang saya inginkan. Tapi ibu? Ibu saya selalu punya jawaban yang mematikan argumen-argumen kuat yang sudah saya siapkan sebelumnya. Ibu nggak pernah mengucapkan jelas, tapi tersirat. Ibu benar.
Akhirnya saya me-restart niat lagi. Sebenarnya, masih sulit membayangkan belajar tanpa Kimia dan biologi.
Dengan semua pertimbangan itu, saya akan terus belajar lebih giat lagi, banyak hal yang belum saya pahami dan ketahui.
Ah, biarlah. Bukankah Allah Maha Pembolak-balik hati manusia?
I will do the best of both, science and social. And let Allah takes the rest. Saya hanya ingin semua hasil ikhtiar yang terjadi di hidup saya adalah kehendakNya, bukan siapa-siapa.
Dan kita akan merasa lega nantinya. Ya kan? :)
Ada 3 macam ujian:
1. Ulangan Subyektif
Bahasa gampangnya, ulangan essay atau lisan di gurunya langsung.
2. Ulangan Obyektif
Yakni ulangan terkoordinir satu sekolah, dengan menghitamkan salah satu bulatan imut LJK, pilihan ganda, sampai scanner sensi khas ruang data.
3. Evaluasi Enrichment.
Kalo yang ini khusus untuk tambahan pelajaran siang hari, yaitu Mat Fis Kim Bio Bing. Dan evaluasi yang ini berguna banget buat nambal nilai mafiabiobing yang jelek jelek.
Ahaa.. maaf ada yang lupa. Remidi. Saya rasa anda semua tau apa itu remidi. Jika nilai anda kurang dari SKM, hadapilah remidi itu. Biasanya, di sekolah saya, remidi berjamaah itu biasa. Dilakukan hampir sama seperti ulangan obyektif, tentu saja dengan nilai maksimal SKM. Haha. Kalo setelah remidi nilainya tetep kurang dari SKM? Silahkan menghadap guru mapel bersangkutan untuk meminta remidi, karena beberapa guru memilih cuek terhadap nilai siswanya. Dan kalau anda lagi nganggur, boleh membuka website resmi sekolah saya, karena disitu tercantum link download nilai hasil obyektif dan enrichment dari ruang data. Tapi saya mohon jangan dibuka, kalau anda nggak mau trauma. Jadi kalo anda mampir ke libels dan menemukan segerombolan anak numpuk berebutan di satu layar laptop dan ada yang teriak kegirangan atau ada yang mendesah kecewa, itu berarti mereka sedang melihat hasil ulangan obyektif atau enrichment mereka.
Kembali ke pembahasan tentang penjurusan. Seorang siswa akan masuk ke satu jurusan dengan beberapa pertimbangan:
1. Syarat nilai akademis terpenuhi
2. Hasil psikotes
3. Minat.
Ini dia. Seharusnya sederhana, tapi begitu rumit untuk diputuskan oleh orang plinplan seperti aku.
Di awal kelas X, saya dan teman-teman sudah menjalani psikotes, dan hasil nya menunjukan penurunan IQ dari SMP ke SMA saya --, (melas melaass)
Tapi, hasil psikotes menunjukan beberapa hal yang saya membuat saya kaget.
Minat scientific saya paling tinggi nilainya daripada bidang lain. Dan minat linguistic yang saya jagokan dari awal hanya mendapat peringkat kedua. Saya bertanya pada diri saya, mosok seh awakmu seneng ipa?
Jawaban sewot langsung muncul di benak saya. Iya! Saya menikmati ketika sedang membaca tentang pembiasan di dua medium berbeda kerapatannya, membaca tentang kehidupan porifera, dan memahami reaksi oksidasi suatu benda.
Tapi dalam detik yang bersamaan muncul pertanyaan yang menskak-mat argument pertama,
Kok nilaimu di matfiskim gak pernah setinggi yang dibilang hasil psikotes lhoh?
Saya hanya pernah sekali sukses di fisika, kimia dan matematika. Waktu awal-awal kelas X tok. Untuk yang semester dua ini, kalaupun selamat, nilainya pasti nyrempet-nyrempet SKM. Saya berpikir, mungkin bakat itu ada. Tapi saya nggak menemukan cara untuk bisa menikmatinya seperti saya menikmati biologi yang notabene hafalan sambil membayangkan. Perlu diketahui juga, saya lemah di matematika murni. Saya sering melakukan kesalahan waktu berhitung. Gak teliti lah, lupa dikali setengah lah, kurang nambah negasi lah. Saya menyadari itu. tapi dari awal, saya nggak pernah belajar kalo hanya untuk nyari nilai bagus. percuma. nggarai gak ikhlas dan gak dapet berkahnya.
Saya juga selalu enjoy belajar ilmu – ilmu sosial, mana gurunya asik asik.
Dan yang mengherankan saya lagi, di hasil psikotes itu tertulis jelas:
Lebih Disarankan : Ilmu Alam.
Matematika itu masuk ilmu alam gak siiihh ?? - - bagian mananya? (Mohon dijawab) padahal matematika tu dasar semua aspek kehidupan. Ck ck , saya suka matematika pas saya mudeng. Hehehe. Ya, minimal saya harus menyiapkan mood dan semangat lebih untuk belajar matematika.
Tapi seharusnya saya nggak akan segamang ini jika tidak melihat cita-cita akhir saya.
Saya sudah berjanji nggak akan ngambil kuliah IPA, (ngngng .. perjanjian aneh) karena saya agak trauma setelah melihat buku kalkulus kakak saya yang kuliah di IPA. Yahhh… meskipun itu berarti saya nggak ketemu lagi sama biologi atau kimia… Saya akan terjun total di bidang yang saya sukai, dan saya yakin mampu untuk itu. Kita nggak bisa main-main lagi, kita berbicara tentang Cita-Cita. Saat itu, saya mantap IPS, dengan pertimbangan dasar ilmu kuliah, sudah saya pegang di SMA.
Dan ada satu hal yang saya lewatkan dalam memutuskan tentang hal ini.
Nasihat orang tua.
Ayah saya dengan sangat demokratis membebaskan saya memilih apapun jurusan yang saya inginkan. Tapi ibu? Ibu saya selalu punya jawaban yang mematikan argumen-argumen kuat yang sudah saya siapkan sebelumnya. Ibu nggak pernah mengucapkan jelas, tapi tersirat. Ibu benar.
Akhirnya saya me-restart niat lagi. Sebenarnya, masih sulit membayangkan belajar tanpa Kimia dan biologi.
Dengan semua pertimbangan itu, saya akan terus belajar lebih giat lagi, banyak hal yang belum saya pahami dan ketahui.
Ah, biarlah. Bukankah Allah Maha Pembolak-balik hati manusia?
I will do the best of both, science and social. And let Allah takes the rest. Saya hanya ingin semua hasil ikhtiar yang terjadi di hidup saya adalah kehendakNya, bukan siapa-siapa.
Dan kita akan merasa lega nantinya. Ya kan? :)
Thursday, February 25, 2010
Mati itu ..
Kemarin dapet video tentang sebuah kecelakaan tragis yang dialami seorang siswa sebuah SMA favorit di Surabaya dari sepupu. gak tau deh itu kapan kejadiannya.
Ngeri. Didapat dari CCTV sebuah jalanan. Ketika motor siswa itu hendak belok, truk besar gandeng muncul dan melindasnya. 12 roda. 12 roda besar itu menggilas tubuhnya. Legam darah seperti air muncrat. Pinggang terpisah. Jalanan menjadi merah. Darah.
Betapa dekatnya.
Betapa dekatnya saya-dan kita semua- dengan kematian. Saya yang tiap hari naik motor ke sekolah yang jaraknya tak kurang dari 18km dari rumah, sesungguhnya sangat dekat dengan kejadian-kejadian seperti itu. Saya ingat sekali, dulu pernah beberapa kali “terselamatkan” dari kecelakaan maut. Saya pernah lalai ngerem motor dalam keadaan dihimpit dua bus di jalan A.Yani. dan anda tahu kenapa saya jadi blank gitu? : Karena saya nyanyi lagu Geisha pas lagi nyetir.
What a stupid.
Buaian lagu membuat saya lalai. And I stopped, took a breath, istighfar, and went on. I couldn’t imagine if I was die on that time, die with Geisha Song. Not dzikrullah, not on remember -Allah condition. Tapi, Allah Maha Baik. Sekalipun pada hamba bodoh yang nyanyi lagu Geisha saat berniat menuntut ilmu. Naudzubillah …
tapi kita semua bercita-cita bertemu Allah kan?
Dan satu-satunya jalan untuk itu hanya satu, Mati.
Mati menjadi sebuah kerinduan bagi mereka yang mencintai Allah dan RasulNya, mati adalah gerbang, mati adalah the only way. Bukan sebuah ketakutan, lantas dihindari dan ‘mencegah’ malaikat Izroil mainkan perannya dengan jimat dan aji-aji. Bukan pula menjadi jalan pintas, dari masalah remeh dunia.
Saya iri. Iri luar biasa.
Para mujahidin itu. Mereka tidak mati, mereka bahagia di sisi Allah. Ketika sambitan Abu Jahal, Bilal yang dipanggang di panas padang pasir dengan batu besar di punggungnya, ketika sahabat Nabi yang dibakar di atas tungku perapian dan api-api itu padam karena cairan tubuhnya oleh kaum kafir, yakinlah mereka sedang tertawa geli. Mereka tidak mati, mereka bersama Allah. (cuplikan buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim-nya Salim A.Fillah)
Kita bisa memilih cara untuk bertemu Allah. Bertemu dalam keadaan kafir atau beriman, saat mengingat Allah atau mengingat dunia. Karena kematian itu sungguh rahasia Allah. We never know when it happened. It might be next year, next month, next Sunday, or a minute later.
Dan ketika kematian itu datang, kita akan bahagia. Kita hanya seperti tidur seharian kemudian dibangunkan lagi, dan berbaris rapi di tengah kerumunan yang berwajah sumringah, cerah dan menyejukkan. Kita berada dalam barisan umat Muhammad yang akan masuk Surga untuk pertama kalinya!
Subhanallah...
Semoga!
Ngeri. Didapat dari CCTV sebuah jalanan. Ketika motor siswa itu hendak belok, truk besar gandeng muncul dan melindasnya. 12 roda. 12 roda besar itu menggilas tubuhnya. Legam darah seperti air muncrat. Pinggang terpisah. Jalanan menjadi merah. Darah.
Betapa dekatnya.
Betapa dekatnya saya-dan kita semua- dengan kematian. Saya yang tiap hari naik motor ke sekolah yang jaraknya tak kurang dari 18km dari rumah, sesungguhnya sangat dekat dengan kejadian-kejadian seperti itu. Saya ingat sekali, dulu pernah beberapa kali “terselamatkan” dari kecelakaan maut. Saya pernah lalai ngerem motor dalam keadaan dihimpit dua bus di jalan A.Yani. dan anda tahu kenapa saya jadi blank gitu? : Karena saya nyanyi lagu Geisha pas lagi nyetir.
What a stupid.
Buaian lagu membuat saya lalai. And I stopped, took a breath, istighfar, and went on. I couldn’t imagine if I was die on that time, die with Geisha Song. Not dzikrullah, not on remember -Allah condition. Tapi, Allah Maha Baik. Sekalipun pada hamba bodoh yang nyanyi lagu Geisha saat berniat menuntut ilmu. Naudzubillah …
tapi kita semua bercita-cita bertemu Allah kan?
Dan satu-satunya jalan untuk itu hanya satu, Mati.
Mati menjadi sebuah kerinduan bagi mereka yang mencintai Allah dan RasulNya, mati adalah gerbang, mati adalah the only way. Bukan sebuah ketakutan, lantas dihindari dan ‘mencegah’ malaikat Izroil mainkan perannya dengan jimat dan aji-aji. Bukan pula menjadi jalan pintas, dari masalah remeh dunia.
Saya iri. Iri luar biasa.
Para mujahidin itu. Mereka tidak mati, mereka bahagia di sisi Allah. Ketika sambitan Abu Jahal, Bilal yang dipanggang di panas padang pasir dengan batu besar di punggungnya, ketika sahabat Nabi yang dibakar di atas tungku perapian dan api-api itu padam karena cairan tubuhnya oleh kaum kafir, yakinlah mereka sedang tertawa geli. Mereka tidak mati, mereka bersama Allah. (cuplikan buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim-nya Salim A.Fillah)
Kita bisa memilih cara untuk bertemu Allah. Bertemu dalam keadaan kafir atau beriman, saat mengingat Allah atau mengingat dunia. Karena kematian itu sungguh rahasia Allah. We never know when it happened. It might be next year, next month, next Sunday, or a minute later.
Dan ketika kematian itu datang, kita akan bahagia. Kita hanya seperti tidur seharian kemudian dibangunkan lagi, dan berbaris rapi di tengah kerumunan yang berwajah sumringah, cerah dan menyejukkan. Kita berada dalam barisan umat Muhammad yang akan masuk Surga untuk pertama kalinya!
Subhanallah...
Semoga!
Thursday, January 14, 2010
And it's being my answer ..
Di setiap tanggal 17 Agustus, yang merupakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, aku, yang saat itu berusia 10 tahun selalu duduk memeluk lutut di depan televisi. Dari pukul 08.00 – 10.00, total aku menguasai teve sederhana itu.
Aku yang berkuasa mengganti channel dari satu ke yang lainnya, mencari layar terbersih, suara terjernih.
Ya, Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang rutin ada di televisi tiap tahun adalah yang kutunggu-tunggu.
Dadaku selalu bergetar ketika terdengan suara marching band menderu, aba-aba pemimpin upacara, dan gerakan serempak tanpa cela para TNI AL, TNI AD, dan TNI AU ketika menerima aba-aba. Megah sekali.
Tapi sebenarnya bukan itu yang aku nantikan.
Momen ketika hatiku jumpalitan tak karuan adalah ketika memasuki prosesi pengibaran bendera. Amboi, lihatlah pleton berseragam putih-putih itu! Pasukan pengibar bendera pusaka !
Gagah, aura memancar dari wajah mereka, langkah tegap yang memukau, formasi sempurna, potongan rambut yang mirip tentara pria dan wanita, derap sepatu fantofel mereka membuat bulu kuduk bocah 10 tahun itu—aku-- meremang.
Mereka bukan sembarang siswa. Mereka siswa terpilih dari beratus-ratus siswa SMA di Indonesia!
Sejak saat itu menjadi pasibraka adalah cita-cita keduaku setelah menjadi presiden.
lima tahun kemudian, aku berdiri di situ, di halaman depan SMA-ku, menjadi satu dari sekian anggota PASKIB.
Aku semakin bersemangat menjadi Paskibraka, tak peduli ketat, sulit, dan kecilnya kemungkinan untuk menjadi kenyataan. Aku tetap bersemangat meskipun pengalaman PBB-ku minim. Aku sadar, cita-citaku bukanlah hal yang mudah, tidak instan, butuh perjuangan, butuh keteguhan hati, butuh pengorbanan. Dan semua itu akan aku mulai dari ekskul kecil ini, ini adalah langkah awalnya.
Aku mencintai kegiatanku. Aku mencintai cita-citaku. Meskipun orangtua ku tidak setuju, tapi aku akan membuktikan kepada mereka! Itu tekadku.
_______
Semakin waktu berjalan, semakin banyak pemahaman dan ilmu yang kuserap, semakin aku mengerti. Ada begitu banyak halangan dari diriku dan sekitar
Sampai satu titik kesadaran, aku tak bisa.
Aku sadar aku tidak bisa maksimal. Sebagaimanapun usahaku.
Aku seperti berwarna merah di tempat berwarna kuning. Aku merasa aku berbeda.
Tak ada kesempatan untukku. Ditambah desakan keluarga yang menyarankan aku berhenti. Dan entah kenapa kesempatan satu-satunya untuk membuktikan pada orang tua tiba-tiba hilang, seperti sudah diatur sedemikian rupa.
Aku menyimpulkan, tak bisa lagi bersama orang-orang hebat disitu. Aku sedih sekali.
___
Aku mengecewakan satu orang disana, dulu aku pernah berjanji padanya akan melakukan apapun untuk bisa menjadi pleton hebat, aku pernah berjanji padanya akan maksimal dan tak lelah berlatih untuk PBB yang lebih baik. Dan aku pernah berjanji akan membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi wakil sekolah ke perlombaan PBB.
Dia kakak kelasku.
Sebentar, mengecewakan dia? Ralat, mungkin ia bukan kecewa, tetapi membenciku.
Aku ingin menjelaskan betapa sulitnya untuk bertemu dan bicara akan hal ini. Tak tahukah ia bagaimana bentuk perasaanku ketika kulihat mereka berbaris rapi di lapangan?
Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya seperti bicara dalam air, suit dan sesak sekali.
Aku tak tahu lagi bagaimana anggapan mereka terhadapku. (haha, geer sekali kau, nezh) aku hanya ingin mereka tahu, betapa beratnya keputusan ini.
Maksudku, ini tentang cita cita masa kecilku! Aku sedang berusaha ikhlas, tak peduli lagi pikiran orang lain, ada banyak yang mereka tak tahu tentang aku. Terkadang sesuatu yang kau inginkan ternyata bukan yang terbaik menurut Allah, kan?
Aku yang berkuasa mengganti channel dari satu ke yang lainnya, mencari layar terbersih, suara terjernih.
Ya, Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang rutin ada di televisi tiap tahun adalah yang kutunggu-tunggu.
Dadaku selalu bergetar ketika terdengan suara marching band menderu, aba-aba pemimpin upacara, dan gerakan serempak tanpa cela para TNI AL, TNI AD, dan TNI AU ketika menerima aba-aba. Megah sekali.
Tapi sebenarnya bukan itu yang aku nantikan.
Momen ketika hatiku jumpalitan tak karuan adalah ketika memasuki prosesi pengibaran bendera. Amboi, lihatlah pleton berseragam putih-putih itu! Pasukan pengibar bendera pusaka !
Gagah, aura memancar dari wajah mereka, langkah tegap yang memukau, formasi sempurna, potongan rambut yang mirip tentara pria dan wanita, derap sepatu fantofel mereka membuat bulu kuduk bocah 10 tahun itu—aku-- meremang.
Mereka bukan sembarang siswa. Mereka siswa terpilih dari beratus-ratus siswa SMA di Indonesia!
Sejak saat itu menjadi pasibraka adalah cita-cita keduaku setelah menjadi presiden.
lima tahun kemudian, aku berdiri di situ, di halaman depan SMA-ku, menjadi satu dari sekian anggota PASKIB.
Aku semakin bersemangat menjadi Paskibraka, tak peduli ketat, sulit, dan kecilnya kemungkinan untuk menjadi kenyataan. Aku tetap bersemangat meskipun pengalaman PBB-ku minim. Aku sadar, cita-citaku bukanlah hal yang mudah, tidak instan, butuh perjuangan, butuh keteguhan hati, butuh pengorbanan. Dan semua itu akan aku mulai dari ekskul kecil ini, ini adalah langkah awalnya.
Aku mencintai kegiatanku. Aku mencintai cita-citaku. Meskipun orangtua ku tidak setuju, tapi aku akan membuktikan kepada mereka! Itu tekadku.
_______
Semakin waktu berjalan, semakin banyak pemahaman dan ilmu yang kuserap, semakin aku mengerti. Ada begitu banyak halangan dari diriku dan sekitar
Sampai satu titik kesadaran, aku tak bisa.
Aku sadar aku tidak bisa maksimal. Sebagaimanapun usahaku.
Aku seperti berwarna merah di tempat berwarna kuning. Aku merasa aku berbeda.
Tak ada kesempatan untukku. Ditambah desakan keluarga yang menyarankan aku berhenti. Dan entah kenapa kesempatan satu-satunya untuk membuktikan pada orang tua tiba-tiba hilang, seperti sudah diatur sedemikian rupa.
Aku menyimpulkan, tak bisa lagi bersama orang-orang hebat disitu. Aku sedih sekali.
___
Aku mengecewakan satu orang disana, dulu aku pernah berjanji padanya akan melakukan apapun untuk bisa menjadi pleton hebat, aku pernah berjanji padanya akan maksimal dan tak lelah berlatih untuk PBB yang lebih baik. Dan aku pernah berjanji akan membuktikan padanya bahwa aku bisa menjadi wakil sekolah ke perlombaan PBB.
Dia kakak kelasku.
Sebentar, mengecewakan dia? Ralat, mungkin ia bukan kecewa, tetapi membenciku.
Aku ingin menjelaskan betapa sulitnya untuk bertemu dan bicara akan hal ini. Tak tahukah ia bagaimana bentuk perasaanku ketika kulihat mereka berbaris rapi di lapangan?
Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya seperti bicara dalam air, suit dan sesak sekali.
Aku tak tahu lagi bagaimana anggapan mereka terhadapku. (haha, geer sekali kau, nezh) aku hanya ingin mereka tahu, betapa beratnya keputusan ini.
Maksudku, ini tentang cita cita masa kecilku! Aku sedang berusaha ikhlas, tak peduli lagi pikiran orang lain, ada banyak yang mereka tak tahu tentang aku. Terkadang sesuatu yang kau inginkan ternyata bukan yang terbaik menurut Allah, kan?
Subscribe to:
Posts (Atom)


