Pages

Friday, December 31, 2010

Surat untuk Bang Ical..

0 comments
zakywahyudi2010:

Bung Ical yang terhormat,
Saya percaya anda lebih berkuasa dari presiden di negara ini
Sri Mulyani anda singkirkan dan mengungsi dari tanah kelahiran yang dicintainya
Satgas anda bungkam sehingga tak lagi bersuara
Kepolisian dan Kejaksaan anda injak saat mereka menangani sang perampok: gayus
sehingga anda pun tidak akan terkait dengan kebusukannya

Saya percaya anda juga telah menebar magnet kharisma anda yang bernama rupiah di petinggi PSSI
Juga menanam sanak keluarga, handai taulan di tempat ini: Nirwan, Nurdin Halid, Andi Darussalam..
Tapi biarkan olahraga yang satu ini tetap menjadi milik kita, jangan anda rebut lagi
Anda boleh menguasai yang lainnya, apapun atau siapapun yang bisa anda beli dengan kekayaan anda

Kami tidak peduli anda menjadi ketua partai dengan cara membeli orang-orang yang sekarang menjadi pembela anda nomor wahid
Tapi tolong jangan anda kotori kesucian olahraga ini

Bung Ical
Anda bisa memiliki segalanya, tapi jangan yang satu ini
Biarkan ini tetap menjadi milik kami
Biarkan kami meneriakkan gairah kami pada permainan yang satu ini
Bagi kami inilah ekstasi untuk sejenak melupakan kepenatan kami atas kerasnya hidup yang mungkin
tidak pernah anda rasakan sejak anda menghirup udara di dunia ini
Biarkan kami meneriakan nama-nama pahlawan kami kami: Bambang Pamungkas! (bukan bambang soesatyo), Markus Horison! (bukannya (melchias) markus mekeng), Firman Utina! (tidak firman
soebagyo)

Bung Ical
Tidak kah anda melihat dan cemburu karenanya?
Bagaimana kami melonjak, berteriak dan tersenyum bahagia sekedar dapat melihat pujaan kami
Kami teriakkan nama-nama mereka dengan cinta tanpa pamrih rupiah
Irfan Bachdim!!! Christian Gonzales!!! Okto!!
Saat ini mereka adalah pahlawan kami
Pahlawan dengan parfum keringat yang menetes, bukannya armani
Pahlawan yang berkaus basah dan bercelana pendek, bukan pahlawan dalam setelan jas dan dasi
Pahlawan di lapangan rumput, tidak di gedung berpendingin ruangan di senayan

Tidak kah bung bertanya, mengapa kami menjadikan mereka pahlawan?
Karena mereka mencoba dengan sekuat tenaga, dengan keringat dan air mata membuat kami bahagia
Oleh karenanya, apapun hasil perjuangan mereka, nama mereka akan selalu lekat di hati kami,
mereka tetap pahlawan kami
Kami pun bahagia menjadi bagian dari perjuangan mereka, walau sekedar teriakan penyemangat
Akan kami ceritakan saat-saat perjuangan mereka kelak kepada anak cucu kami

Bung Ical
Anda berkeinginan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini kelak
Oleh karena itu jangan biarkan remah-remah simpati yang tersisa pada kami lenyap
Anda mungkin ingat ungkapan : "we may forgive, but we'll never forget"
Kami tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kami akan ingat selamanya :Lapindo, penggelapan pajak...
Jangan anda tambah kekecewaan kami dengan merebut permainan ini dari kami
Jika anda ingin mendapat sedikit ucapan terima kasih dari kami
tolong anda bisikkan sesuatu kepada Nurdin agar ia segera menyingkir dari olahraga ini

Terima kasih bung Ical


sumber http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6458133

====

membaca perspektif orang tentang berbagai hal itu baik menurut saya, meskiii jelas kental subyektifitasnya. ya, seperti ini.

at least, kita dapat pengetahuan baru.

btw, saya lagi suka copas --"

Wednesday, December 29, 2010

Can I call you Angel?

0 comments
The snow fell, leaving a halo of white upon your head,
and that's when I said,
Can I call you Angel?

You looked at me with surprise,
but I could see it in your eyes,
and I knew.

As you sang silent night,
your beautiful voice put me at ease,
and I asked please,
Can I call you Angel?

A smile came to your face with serenity and grace,
but you said not a word.
In my darkest hours you held my hand,
never leaving my side, and I said, while I cried,
Can I call you Angel?

You then began to wipe the tears away
and erase all the gray in my life.
You led me down a path of gold,
telling me of the creator above,
and again I asked with a greater love,
Can I call you Angel?

You never answered my plea,
so I fell to my knee in prayer.
As I opened my eyes, I could see you before me;
Your wings spread and a golden halo upon your head
and one last time I said,
Can I call you Angel?

by : Erin Sheets

***

This is the kind of beautiful friendship poems. My senior, Dian Sari Widadi make a song from this poems, by her piano. I swear, It's outstanding..
I do love that song :)

Tuesday, December 28, 2010

!

0 comments
you're right. sometimes I'm in that selfish.

what should I do then? why does everybody seems agree with me?

Sunday, December 19, 2010

Bertahan.

4 comments
ya,
aku hanya khawatir, apabila pada akhirnya kau muak dan jenuh dengan segala upayaku menjagamu. sampai akhirnya kau memintaku pergi. 


inilah patah hati itu. suakit. suakit. clekit clekit.

rasanya lebih menyakiti tenggorokan, sesak dan merasa berat di kepala.

aku tengah menebalkan kulit muka, menulikan telinga, pura-pura baik-baik saja.
aku ingin selalu disisimu. tak peduli oang-orang disekililingmu akan jengah dengan kehadiranku, aku tak peduli. bagiku itu oke-oke saja. selama kau menerimaku.


aku semakin kehilangan identitas lamamu. ketika kau berada di zona itu, aku total tak mengenalmu. sampai beberapa detik selanjutnya kau menyapaku. ah, itu baru seseorang yang kukenal!

aku akan bertahan, tak peduli dengan tatapan benci dan bosan darinya.
dia tak mengenalmu, dia sok tahu tentangmu, dia tak benar-benar menyayangimu.

tapi yang selalu kutakutkan adalah, ketika kau sendiri yang memintaku berhenti bersamamu, seraya bilang : kau sebenarnya yang tak mengenalku! kau yang sok tau tentangku!

...


di pangkuan malam, Surabaya, 19 Desember2010




Ya Allah, mudahkanlah..
aku mencintainya karenaMu..

Saturday, November 27, 2010

Seharusnya Cinta

2 comments
Teruslah terbuai dalam kesemuan
Biarlah cinta itu memperdayamu dalam kekerdilan

Lihatlah mereka yang lelah berlari
Cintanya kuat merindu cahaya surgawi

Teruslah berbicara tentang kefitrahan
Biarlah kau nodai kata itu dengan bualan murahan

Dan fitrah mereka adalah kemuliaan
Tiada sejengkal pun tanah, melainkan darah kehormatan

Cinta kita penuh warna-warna
Kadang merah muda, ungu, ataupun jingga

Cinta mereka penuh debu
Kadang darah, kerikil, dan air mata jadi satu

Surat cinta kita teriring bersama bunga
Tertera di sana kata-kata indah puisi bak mutiara

Surat cinta mereka lusuh terdesing mesiu
Namun lantunannya terdesir membingkai kalbu

Pikiran kita terkuras pada yang kelak sirna
yang tak pernah ada dari padanya selain yang sia-sia

Pikiran mereka terpaut pada kemilau Wahyu
Yang membuat mereka bertahan didera peluru

Cinta ada disini
Cinta pun ada disana

Masing-masing memiliki arti
Namun keduanya tak pernah sama

Disini cinta terhinakan nafsu
Disana cinta termuliakan luka

Disini cinta rendah membelenggu
Disana cinta tinggi mengudara!


(Ayyash Ash-Shiddiq)

Oh, Weak.

3 comments
Rasanya seperti tercekat.
Ingin sekali berteriak, menjaganya erat erat. Agar tak ada satu tangan jahilpun datang mengganggunya.
Ia peri yang berbeda. Ia teguh, sederhana, tapi cerdas luar biasa.
Ini adalah fase merdeka. Dimana peri yang baru tumbuh akan menjelajah dunianya. Dengan berbagai cara.
Jadi menyuruhnya untuk tetap bersama denganku sama seperti memperlihatkan kekonyolanku padanya. Aku tak bisa berbuat apa-apa.

Tapi aku benci ketidakmampuan ini. Ia seharusnya tumbuh di tempat yang penuh dengan cahaya. Bukan cahaya semu. Aku berulang kali menunjukkan betapa indahnya tempat itu. Sederhana, tapi penuh kasih sayang.

Sekali lagi, dia adalah peri yang memiliki sayap. Ia bisa tetap bersamaku. Tapi bisa saja disaat semua lengah, perlahan ia pergi ke tempat lain. di tempat yang sulit aku menjangkaunya.
ya, Aku penjaga yang lemah. Tak bisa melakukan apa-apa.
Aku takut ia akan menuntutku nantinya. Ia menyalahkanku di hadapanNya.

“Ini karena dia membiarkanku pergi!”

Aku benci kecerobohanku. Aku benci menyadari kenyataan bahwa kami sekarang berada di fase bebas. Tapi kami masih terlalu rapuh untuk terbang sendirian.
Lalu, apa yang harus kulakukan?

Sunday, October 10, 2010

Selama ini, Menurutnya..

6 comments
Bagaimana rasanya memendam kecewa?
karena harapan yang kau lantunkan merdu-merdu rusak karena mikrofonmu ternyata ‘hanya’ berKW 2.
Bagaimana kau bisa ikhlas ketika yang kau cintai ternyata mengkhianati harapanmu, merusak benang-benang doa tulusmu tiap bermunajat pada Yang Maha Indah?
Dan ketika ada sedetik saja kesempatan waktu untuk berbicara, kau ingin segera berteriak. Memberi tahu dirinya bahwa engkau kecewa. Engkau tak lagi memiliki harapan apapun padanya. Engkau menganggap ia tak lagi sama dengan orang yang engkau bangga-banggakan dulu.
Engkau teriakkan itu ke wajahnya.
Puaskah?
Lalu bagaimana jika selama ini yang dipilihnya adalah untuk membuatmu bahagia? Ada cara yang dirasanya lebih membuatmu terkagum daripada mengikuti caramu?
Bagaimana jika ia telah menyapkan skenario kejutan untukmu di akhir cerita?
lalu, bagaimana jika disaat kau bercerita tentang kekecewaanmu padanya, ia terlanjur menganggap dirinya tak berharga? Dan tiba-tiba rencana membuatmu tertawa menguap ke langit-langit.
Mengapa kau mengganggap ia sama dengan mereka? Oh tuhan, bahkan kau menyiratkan bahwa ia bodoh!
Tapi semua memang terlampau wajar. Kau berhak mengutarakannya. Kau memiliki hak prerogatif melebihi presiden kepadanya.
Yang dilakukannya sekarang terlihat lebih sulit. Bagaimana ia bisa bekerja dibawah tatapan mata tak percaya?
Ia tau apa yang akan ia lakukan. Ia bangun kembali puing-puing rencana yang sempat kau senggol, ia tetap memintamu percaya padanya. Ia menganggap kau adalah sedikit ujian bersifat internal yang tengah menguji kekuatannya.
Yah, mungkin di saat-saat tertentu ia akan jatuh lagi
Tapi lihatlah, ia mencoba bersabar dan bangkit.

Dan kemenangan itu sesungguhnya takkan pernah mudah.
Ya kan?
 
Copyright © Nezha Fathirah's Blog